<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>autumn leaf</title>
	<atom:link href="http://ifamutz.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ifamutz.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Fri, 17 Jul 2009 02:39:05 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='ifamutz.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/ac9eb85b356145178c7f686907ba09e3?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>autumn leaf</title>
		<link>http://ifamutz.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://ifamutz.wordpress.com/osd.xml" title="autumn leaf" />
	<atom:link rel='hub' href='http://ifamutz.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Dunia Pendidikan Bangsaku Masih Terjajah</title>
		<link>http://ifamutz.wordpress.com/2008/12/31/dunia-pendidikan-bangsaku-masih-terjajah/</link>
		<comments>http://ifamutz.wordpress.com/2008/12/31/dunia-pendidikan-bangsaku-masih-terjajah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 31 Dec 2008 08:41:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>autumn leaf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ifamutz.wordpress.com/?p=51</guid>
		<description><![CDATA[Novel Laskar Pelangi karangan Andrea Hirata yang sekarang telah diangkat ke layar lebar, mendapat banyak perhatian dari masyarakat. Hal ini nampak dari prestasi penjualan novel dan filmnya yang begitu fenomenal. Sebuah karya yang diangkat berdasarkan kisah nyata ini, menggambarkan tentang persahabatan, perjuangan hidup, perjalanan cita-cita, serta  kondisi pendidikan Belitong pada akhir tahun 70-an. Sungguh ironis [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ifamutz.wordpress.com&amp;blog=4806409&amp;post=51&amp;subd=ifamutz&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="line-height:115%;" align="justify"><span style="font-family:Calibri,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Novel Laskar Pelangi karangan Andrea Hirata yang sekarang telah diangkat ke layar lebar, mendapat banyak perhatian dari masyarakat. Hal ini nampak dari prestasi penjualan novel dan filmnya yang begitu fenomenal. Sebuah karya yang diangkat berdasarkan kisah nyata ini, menggambarkan tentang persahabatan, perjuangan hidup, perjalanan cita-cita, serta  kondisi pendidikan Belitong pada akhir tahun 70-an.</span></span></p>
<p style="line-height:115%;" align="justify"><span style="font-family:Calibri,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Sungguh ironis ketika kita melihat realita pendidikan pada akhir tahun 70-an yang digambarkan dalam novel tersebut tidak berbeda jauh dengan kondisi pendidikan sekarang ini. Rakyat miskin tetap saja sulit bahkan tidak bisa mendapatkan haknya, terutama dalam hal pendidikan. Biaya pedidikan semakin mahal dari tahun ke tahun. Kesempatan untuk mencicipi bangku pendidikan, seolah hanya mimpi belaka bagi mereka. Cita-cita yang tinggi tertebas begitu saja oleh kondisi mereka yang sulit untuk mengenyam dunia pendidikan. </span></span></p>
<p style="line-height:115%;" align="justify"><span style="font-family:Calibri,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Apalah artinya pasal 31 Undang-Undang Dasar 1945, yang isinya menjamin seluruh warga Negara Indonesia berhak untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Apakah itu hanya sebuah wacana tanpa implementasi nyata? Faktanya, biaya pendidikan di Indonesia semakin mahal dari tahun ke tahun. Kenyataannya hanya orang-orang berduit saja yang bisa merasakan nikmat terpenuhinya hasrat akan ilmu pengetahuan. </span></span></p>
<p style="line-height:115%;" align="justify"><span style="font-family:Calibri,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Mereka yang memiliki kesempatan mengenyam dunia pendidikan, banyak yang menyianyiakan kesempatan yang ada. Mereka seolah hanya asyik bermain-main dikubangan air pendidikan dengan modal duit orang tua mereka, padahal mereka tiada memiliki suatu kemampuan otak yang luar biasa. Sekali lagi “hanya dengan modal duit” mereka dapat merasakan bangku pendidikan sampai setinggi-tingginya, bahkan sampai menempati posisi <em>crutial </em>dalam pemerintahan dimana hajat hidup orang banyak berada di tangan mereka. Sementara mereka yang cerdas tapi kurang mampu, bagaikan pungguk merindukan bulan, mereka seolah sulit dan bahkan mustahil mendapatkan haknya. Bisa dibayangkan bukan, sebuah bangsa yang mengambil orang-orang bodoh untuk memutuskan kebijakan-kebijakan penting ?</span></span></p>
<p style="line-height:115%;" align="justify"><span style="font-family:Calibri,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Apa bedanya dengan kondisi pendidikan jaman penjajahan Belanda  dulu?<span style="color:#31849b;"> </span>Dimana hanya kaum bangsawan pribumi dan pejabat-pejabat pemerintahan Hindia-Belanda saja yang boleh mengenyam bangku pendidikan yang tinggi, sementara rakyat jelata nan miskin tidak diperbolehkan. Sama halnya dengan bangsa kita di zaman merdeka ini,  yang kenyataannya seolah-olah berkata ‘Orang Miskin Dilarang Sekolah’,  persis seperti sebuah judul buku karangan Eko Prasetyo yang menyoroti  kondisi pendidikan di Indonesia. Jika dahulu bangsawan didefinisikan sebagai keluarga yang memiliki hubungan darah dengan pembesar keraton, kini bangsawan diukur dari seberapa besar uang yang dimiliki. Semakin besar uang yang dimiliki, semakin ningrat pula kedudukannya di masyarakat.</span></span></p>
<p style="line-height:115%;" align="justify"><span style="font-family:Calibri,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Bahkan sistem pendidikan yang ada sekarang masih mewarisi “budaya” kolonial Belanda.  Saya teringat waktu SMA dulu, murid-murid  dengan nilai unggul, diarahkan untuk masuk IPA , sedangkan murid-murid yang nilainya “kurang”, hanya bisa masuk  ke kelas Sosial atau Bahasa. Sangat banyak orang tua dan masyarakat yang masih berpendapat bahwa anak yang hebat dan pintar adalah anak yang nilai IPA/science-nya menonjol. Dan bahkan dikalangan murid sendiri,  dalam <em>mindset </em>mereka, berpikiran bahwa anak-anak yang masuk kelas Sosial atau Bahasa, lebih bodoh dari anak-anak yang masuk kelas IPA/science. Padahal pola pikir semacam ini, sengaja ditanamkan sejak zaman kolonialisme dulu, untuk menghambat kemajuan orang-orang pribumi.</span></span></p>
<p style="line-height:115%;" align="justify"><span style="font-family:Calibri,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Anak-anak dengan kecerdasan tinggi seharusnya diarahkan untuk masuk jurusan Sosial, supaya di masa mendatang akan lahir ekonom, hakim, jaksa, pengacara, polisi, diplomat, duta besar, politisi dsb yang hebat-hebat. Namun hal itu ternyata tidak dikehendaki oleh penguasa (Belanda). Belanda menginginkan anak-anak yang cerdas tidak memikirkan masalah-masalah sosial politik. Mereka cukup diarahkan untuk  menjadi tenaga ahli/scientist, ahli matematika, insinyur, dokter dsb  yang hanya berkutat di ruang kerjanya/laboratorium (intinya, agar tidak membahayakan posisi penguasa).</span></span></p>
<p style="line-height:115%;" align="justify"><span style="font-family:Calibri,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Akibat dari politik ethis, pemerintah Belanda mengizinkan kaum pribumi menuntut ilmu di sekolah-sekolah Belanda. Progam pendidikan di Hindia Belanda menghasilkan pribumi-pribumi pintar. Tapi susunan masyarakat  kolonialis,  menjadikan kepintaran kaum terdidik pribumi menjadi mentah terbentur masalah rasial, dimana orang Belanda yang bodoh bisa menjadi atasan bagi kaum pribumi yang pintar. Keadaan ini cukup digambarkan oleh Kartini dalam surat tertanggal 12 Januari 1900 kepada salah seorang sahabatnya Estelle Zeehandelaar</span></span></p>
<p style="line-height:115%;" align="justify">“……………………<span style="font-family:Calibri,sans-serif;"><span style="font-size:small;">. Aku akan ceritakan kepadamu tentang seorang pribumi yang berbakti dan terpelajar. Orang itu telah menempuh ujian penghabisan, dan no.1 dari ketiga-tiga  sekolah HBS di Jawa. Pemuda itu tinggal di Semarang, di mana ia bersekolah, dan di Batavia, tempat menempuh ujian, pintu gedung-gedung mentereng terbuka bagi gymnasias yang zenial dengan sopan santun dan serta kerendah-hatiannya yang besar. Setiap orang berbicara bahasa Belanda dengannya, yaitu bahasa, yang dengannya ia dapat menyatakan pikirannya dengan gilang gemilang. Dalam suasana seperti itu ia pulang kembali ke rumah orang tuanya, dan pembesar setempat. Maka iapun menghadap Residen; dan pada kesempatan yang paling mula ia sudah melakukan kekeliruan. Coba, bagaimana dia berani-berani menjawab si tuan besar itu dalam bahasa Belanda? Keesokan harinya ia menerima surat pengangkatannya, menjadi Klerk seorang kontrolir di pegunungan. Dan disanalah pemuda itu tinggal untuk merenungkan “kejahatan” nya, untuk melupakan segala yang telah dipetiknya dari sekolah-sekolahan yang telah ditamatkannya. Beberapa tahun ia berada di sana, datanglah seorang kontrolir baru, atau lebih tepat seorang aspiran kontrolir, dan dia ini menyebabkan penderitaannya bertambah-tambah lagi. Kepalanya yang baru ini adalah kawan sekolahnya dulu, seorang yang justru tidak mempunyai suatu keluarbiasaan dalam otaknya. Pemuda itu, yang dahulu no.1 dalam segala-galanya, di hadapan kawan sekolahnya yang bodoh dulu kini ia <em>harus</em> jalan merangkak di lantai, harus bicara dalam bahasa Jawa tinggi, sedang si kulit putih itu sendiri bicara bahasa Melayu Babu. Daapatkah kau bayangkan betapa penderitaan yang ditanggungkan oleh hati yang bangga dan megah yang dihina sedemikian rupa? Dapatkah kau bayangkan betapa besar kekuatan batin yang selam itu dipergunakannya untuk menahan hinaan dan gangguan semacam itu? &#8230;&#8230;&#8230;.”</span></span></p>
<p style="line-height:115%;" align="justify"><span style="font-family:Calibri,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Masalah rasial pada zaman itu, jika dibandingkan dengan zaman kemerdekaan sekarang lagi-lagi, dikaitkan degan masalah ‘uang’. </span></span></p>
<p style="line-height:115%;" align="justify"><span style="font-family:Calibri,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Selain masalah rasial, pada zaman kolonial, gelar dijadikan senjata pemerintah Hindia-Belanda terhadap rakyat pribumi yang ‘tidak mungkin’ mempunyai gelar yang tinggi, hal ini dilakukan agar rakyat pribumi tidak menduduki posisi-posisi penting/tinggi dalam pemerintahan. Mereka (pemerintah Belanda) mencamkan bahwa orang yang tidak menempuh pendidikan atau dengan kata lain tidak mempunyai gelar pendidikan tidak mampu untuk mengemban tugas penting dan menjadi pejabat-pejabat kelas atas. Hal itu tidak berbeda dengan bangsa kita setelah merdeka, yang kita lihat gelar pendidikan saat ini (zaman merdeka), dijadikan sebagai alat kendaraan untuk mobilitas sosial dan kepentingan-kepentingan kekuasaan. </span></span></p>
<p style="line-height:115%;" align="justify"><span style="font-family:Calibri,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Kebutuhan masyarakat terhadap gelar-gelar inilah yang kemudian memancing tumbuhnya kapitalisme pendidikan yang bukan hanya membangun sekolah-sekolah sebagai produsen gelar tapi juga semata-mata hanya jualan gelar bukan mementingkan proses penumbuhan intelektual. Kebutuhan akan kekuasaan, menjadikan gelar pendidikan sebagai formalitas semata, sehingga dilakukanlah berbagai cara untuk mendapatkannya, misalnya dengan proses yang singkat atau tanpa harus melalui proses pendidikan. Jadi, kalau ada uang, bisa langsung wisuda. </span></span></p>
<p style="line-height:115%;" align="justify"><span style="font-family:Calibri,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Masyarakat  merasa puas ketika melihat  nama para calon pemimpin mereka bertitel: master, doktoral ataupun semacamnya. Tapi mereka tidak pernah mengkritisi bagimana proses mendapatkannya, buku apa yang telah mereka terbitkan, atau riset apa yang sudah mereka lakukan. Masyarakat telah mematok harga bahwa, ‘orang yang bergelar itu adalah orang yang pintar’. Bukankah seharusnya kehormatan dan penghargaan didapatkan berdasarkan prestasinya? Apakah dapat disamakan, gelar doctoral yang didapat Anwar Fuadi, Rhoma Irama, dan  orang yang mendapatkan gelar doktoralnya ‘dalam waktu singkat dan meragukan’ dengan gelar yang diberikan kepada orang yang memang mendedikasikan dirinya untuk pendidikan akademis dan menghasilkan produk-produk ilmiah melalui riset yang panjang?? </span></span></p>
<p style="line-height:115%;" align="justify"><span style="font-family:Calibri,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Dengan melihat realita sekarang ini, saya berani mengatakan bahwa pendidikan di Indonesia masih sama dengan zaman penjajahan dulu alias ‘masih terjajah’. Tapi tidak bisa dikatakan juga bahwa sistem pendidikan yang dibawa oleh para penjajah dulu semuanya adalah buruk, bahkan menurut saya ada hal yang lebih baik dibandingkan dengan sistem pendidikan yang ada di Indonesia saat ini. Meski pendidikan saat itu ditujukan untuk kepentingan politik penjajah, tidak sedikit guru yang memberi pencerahan kepada murid-murid pribumi. Yang pada akhirnya memberikan sebuah ironi. Kurikulum penjajah melahirkan generasi yang memperjuangkan kemerdekaan dengan bobot intelektualitas yang tinggi. Sementara kurikulum kita mencetak mediator-mediator yang kurang kreatif dan berwatak.</span></span></p>
<p style="line-height:115%;" align="justify"><span style="font-family:Calibri,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Bagaimana bisa mencetak generasi yang berwatak dan berkualitas, sementara dunia pendidikan telah ternodai,  misalnya saja Ujian Nasional yang seharusnya dijadikan sebagai parameter terbentuknya intelektualitas harapan bangsa, dijadikan sebagai alat kekuasaan dan politik. Jika nilai ujiannya baik, maka pemerintah setempat dianggap ‘berhasil’ dalam bidang pendidikan. Sudah menjadi rahasia umum, jika  ada ujian, dibentuklah “tim sukses” agar mendongkrak hasil akhir nilai ujian nasional regionnya. Atau karena berdasar atas rasa kasihan, seseorang dapat diluluskan, padahal nilainya tidak memenuhi syarat. Dengan keadaan yang demikian, bisa dibayangkan  mentalitas para generasi mudanya yang  akan terbentuk di kemudian hari. </span></span></p>
<p style="line-height:115%;" align="justify"><span style="font-family:Calibri,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Melihat realitas pola pikir masyarakat dan sistem pendidikan yang “sakit”  seperti ini, seharusnya kita merasa malu dan mau mengintropeksi diri untuk bersama-sama merubah keadaan bangsa kita menjadi lebih baik. Kita sudah tidak lagi dijajah. Namun mengapa sistem pendidikan dan pola pikir masyarakatnya masih sama seperti waktu penjajahan dulu, feodalisme  dan kapitalisme pribumi. Bukan dari bangsa atau Negara lain tapi dari diri kita sendiri. Masyarakat sepatutnya tidak bisa hanya menyalahkan pemerintah. Namun yang paling penting adalah mentalitas dan pola pikir masyarakat itu sendiri yang membentuk semuanya. Karena para pemerintah sebenarnya juga merupakan bagian dan berawal dari masyarakat, dan dari masyarakat berawal dari keluarga. </span></span></p>
<p style="line-height:115%;" align="justify"><span style="font-family:Calibri,sans-serif;"><span style="font-size:small;">SAVE OUR NATION RIGHT NOW!!</span></span></p>
<p style="line-height:115%;" align="justify"><span style="font-family:Calibri,sans-serif;"><span style="font-size:small;">Kalau bukan kamu, lantas siapa??</span></span></p>
<p style="text-indent:.5in;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<br />Posted in Opini  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ifamutz.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ifamutz.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ifamutz.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ifamutz.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ifamutz.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ifamutz.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ifamutz.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ifamutz.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ifamutz.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ifamutz.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ifamutz.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ifamutz.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ifamutz.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ifamutz.wordpress.com/51/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ifamutz.wordpress.com&amp;blog=4806409&amp;post=51&amp;subd=ifamutz&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ifamutz.wordpress.com/2008/12/31/dunia-pendidikan-bangsaku-masih-terjajah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/edd0f4e6bcffb0d1eabaf8ce722fd411?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">autumn leaf</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>at the moment&#8230;</title>
		<link>http://ifamutz.wordpress.com/2008/09/14/at-the-moment/</link>
		<comments>http://ifamutz.wordpress.com/2008/09/14/at-the-moment/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Sep 2008 06:06:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>autumn leaf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Self and Mind]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ifamutz.wordpress.com/?p=26</guid>
		<description><![CDATA[Di sebuah Sabtu , ketika jam besar orange yang tergantung di dinding menunjukkan waktu dekat dini hari, saat banyak orang memutuskan untuk meletakkan lelah dan penatnya, aku keluar rumah. Malam itu langit di atas Yogyakarta terasa agak sendu. Tidak banyak bintang bertebaran. Awan mulai tampak pekat mengambang. Dari radio sebelah kamarku semakin jelas terdengar alunan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ifamutz.wordpress.com&amp;blog=4806409&amp;post=26&amp;subd=ifamutz&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Di sebuah Sabtu , ketika jam besar orange yang tergantung di dinding menunjukkan waktu dekat dini hari, saat banyak orang memutuskan untuk meletakkan lelah dan penatnya, aku keluar rumah. Malam itu langit  di atas Yogyakarta terasa agak sendu. Tidak banyak bintang bertebaran. Awan mulai tampak pekat mengambang.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Dari radio sebelah kamarku semakin jelas terdengar alunan lagu indah, <em>because of you</em>, yang dinyanyikan dengan apik oleh Keith Martin…. Lagu itu berasal dari gelombang 97.00 FM. Syairnya membawa pikiranku jauh melewati ratusan kilometer dari di mana aku berpijak,, serangkaian kata yang tak bisa kuucapkan padanya,,</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify"><em>If ever you wondered</em></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify"><em>If you touched my soul, yes you do.</em></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify"><em>Since I met you I’m not the same.</em></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify"><em>You bring life to everything I do.</em></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify"><em>Just the way you say Hello. With one touch I can’t let go</em></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify"><em>Never thought I’d fall in love with you</em></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify"><em>Because of you my life has changed</em></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify"><em>Thank you for the love and the joy you bring.</em></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify"><em>Because of you I feel no shame</em></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify"><em>I’ll tell the world is because of you</em></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:100%;" align="justify">…………………………………………………<em>..</em></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Aku mendongak ke langit. Menyapa bintang-bintang.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Merasakan angin menyentuh jemari dan wajahku dengan lembut.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Memejamkan mata. Sambil menyebutkan sebuah nama.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Kemudian membiarkan  Keith Martin meneruskan pesan hatiku kepadanya. Seperti ucapan Bambang Haryanto, seorang wartawan yang kukutip “Pesan itupun segera melesat melewati kerlip bintang yang menari”</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Aku percaya pada getar-getar langit, percaya pada Zat yang telah menciptakannya. Dan di  belahan bumi lain, aku yakin ada hati yang mengerti.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Yogyakarta, September 2008</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ifamutz.wordpress.com/26/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ifamutz.wordpress.com/26/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ifamutz.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ifamutz.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ifamutz.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ifamutz.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ifamutz.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ifamutz.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ifamutz.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ifamutz.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ifamutz.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ifamutz.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ifamutz.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ifamutz.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ifamutz.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ifamutz.wordpress.com/26/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ifamutz.wordpress.com&amp;blog=4806409&amp;post=26&amp;subd=ifamutz&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ifamutz.wordpress.com/2008/09/14/at-the-moment/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/edd0f4e6bcffb0d1eabaf8ce722fd411?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">autumn leaf</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apa yang Dianggap Perempuan sangat Memikat di Dalam Diri Lelaki ??</title>
		<link>http://ifamutz.wordpress.com/2008/09/10/apa-yang-dianggap-perempuan-sangat-memikat-di-dalam-diri-lelaki/</link>
		<comments>http://ifamutz.wordpress.com/2008/09/10/apa-yang-dianggap-perempuan-sangat-memikat-di-dalam-diri-lelaki/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Sep 2008 10:02:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>autumn leaf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ifamutz.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[1. Lelaki yang bekerja Tidak diragukan lagi bahwa perempuan lebih menghargai dan mencari lelaki yang bekerja keras lebih dari sifat atau karakteristik lain. Bila seorang lelaki ingin menjadi sangat memikat bagi para perempuan , dia perlu secara cerdik membiarkan para perempuan tahu bahwa dia bekerja keras. Perempuan tahu, pada tingkat tertentu, bahwa seorang lelaki yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ifamutz.wordpress.com&amp;blog=4806409&amp;post=3&amp;subd=ifamutz&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>1. Lelaki yang bekerja</p>
<p class="ListParagraph">Tidak diragukan lagi bahwa perempuan lebih menghargai dan mencari lelaki yang bekerja keras lebih dari sifat atau karakteristik lain. Bila seorang lelaki ingin menjadi sangat memikat bagi para perempuan , dia perlu secara cerdik membiarkan para perempuan tahu bahwa dia bekerja keras. Perempuan tahu, pada tingkat tertentu, bahwa seorang lelaki yang bekerja dalam waktu lama adalah orang yang mampu menghasilkan stabilitas, terutama finansial. Perempuan, rata-rata tertarik dengan lelaki yang bekerja keras.</p>
<p class="ListParagraph">2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span><!--[endif]-->Lelaki yang tekun</p>
<p class="ListParagraph">Para perempuan sering kali mengeluhkan para lelaki yang terus-menerus menelpon mereka, tetapi waspadalah, perempuan mengagumi ketekunan dalam diri lelaki. Kemampuan untuk bangkit dan kembali (apapun itu) setelah mengalami kegagalan adalah sesuatu yang membuat perempuan tertarik.</p>
<p><!--[if !supportLists]-->3. <!--[endif]-->Lelaki di posisi puncak</p>
<p class="ListParagraph">Yang lebih penting dari penampilan fisik bagi sebagian besar perempuan adalah tingkat kekuasaan atau keberhasilan seorang lelaki. Perempuan tertarik dengan lelaki yang ada di, atau dekat dengan , puncak hierarki di dalam suatu kelompok atau organisasi</p>
<p><!--[if !supportLists]-->4. <!--[endif]-->Lelaki yang berpendidikan</p>
<p class="ListParagraph">Penelitian mengindikasikan bahwa perempuan pada umumnya ingin bersama lelaki yang memiliki kecerdasan lebih tinggi 30 % dibanding lelaki lain. Otak telah mengalahkan kekuatan sebagai stimulus daya tarik yang memikat,,</p>
<p><!--[if !supportLists]-->5. <!--[endif]-->Lelaki yang memperlakukan anak-anak dengan baik</p>
<p class="ListParagraph">Bila seorang perempuan melihat seorang lelaki bermain atau hanya sekedar <span> </span>bersama seorang anak, hal itu memberikan informasi pribadi yang jelas, yaitu “ini adalah lelaki yang baik”. Perempuan tertarik dengan lelaki yang bersikap baik kepada anak-anak, karena hingga tingkat tertentu, perilaku ini dapat digunakan untuk memperkirakan komitmen, kebaikan hati, dan cinta.</p>
<p class="ListParagraph"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Calibri;">Sumber:<span> </span>Personal Attraction </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ifamutz.wordpress.com/3/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ifamutz.wordpress.com/3/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ifamutz.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ifamutz.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ifamutz.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ifamutz.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ifamutz.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ifamutz.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ifamutz.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ifamutz.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ifamutz.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ifamutz.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ifamutz.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ifamutz.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ifamutz.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ifamutz.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ifamutz.wordpress.com&amp;blog=4806409&amp;post=3&amp;subd=ifamutz&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ifamutz.wordpress.com/2008/09/10/apa-yang-dianggap-perempuan-sangat-memikat-di-dalam-diri-lelaki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/edd0f4e6bcffb0d1eabaf8ce722fd411?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">autumn leaf</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
